Assalamu’alaikum….
Seberapa sering kita jujur, seberapa sering kita berbohong….
Jujur dan bohong tidak pernah sejalan, pasti berlawanan arah. Jujur
adalah nilai kebaikan dari Tuhan. Bohong adalah nilai keburukan dari syetan. Namun
kita manusia tentunya tidak pernah sempurna, pernah sekali waktu kita pasti
berbohong, entah untuk sebuah alasan kebaikan atau untuk menutupi keburukan .namun
pernahkah kita terpikir apa konsekuensi dari sebuah kejujuran dan kebohongan?! Kita
sering terjebak dalam sebuah alegori pikiran kita yang membenarkan “jujur
pahit, maka sebaiknya bohong untuk hal yang manis”. Sebenarnya kita sama saja
dengan membodohi diri dengan sebuah legistimasi untuk mengharamkan kejujuran yang
bernilai pahit dan melegalkan kebohongan yang bernilai manis.
Untuk apa kita berbohong? Katakana saja sejujurnya walaupun itu
adalah pahit! Bukankah nabi sudah menekankan hal tersebut?! Memang benar untuk
menjadi jujur dengan keadaan yang pahit
bukan perkara gampang. Terlalu banyak pemikiran dengan segala konsekuensi
yang cenderung kita hitung dan anggap sebagai
“untung-rugi”. Kita tidak sedang tawar menawar tentang kejujuran, kita
tidak akan menemukan nilai kejujuran dalam tawar menawar bursa saham atau
sejenisnya. Jujur dan bohong adalah sebuah nilai diri yang terkait dengan hati
kita. Sebuah kebohongan kecil yang kita anggap hal biasa akan menjadi bibit
bagi kebohongan-kebohongan yang lain. Ibarat sebuah mata rantai yang tidak
mudah putus. Tak perlu kita berbohong, ungkapkan saja sebenarnya walaupun harus
pahit namun itu jauh lebih baik daripada kita disajikan sirup beracun yang tiap
saat akan menggerogoti nilai sebuah kepercayaan yang murni.
Jadi…… untuk apa berbohong?????
Wassalam……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar