Sabtu, 16 Agustus 2014

Coretan tengah hari

Assalamu'alaikum

Akhir-akhir ini kita selalu dibuat kenyang dengan berita-berita hangat seputar sengketa hasil PEMILU beberapa waktu lalu. Masih segar dalam ingatan kita, seluruh elemen bangsa kita berduyun-duyun melakukan "pencoblosan" menyampaikan hak aspirasi mereka. PRESIDEN BARU!!!! HARAPAN BARU!!!! KEHIDUPAN BARU!!!!! CERITA BARU!!!!!. BARU yang kita inginkan tentulah "baru" dalam semua hal kebaikan. Perbaikan taraf hidup masyarakat, perbaikan kualitas pendidikan, perbaikan moral individu maupun nasional, perbaikan sanitasi, perbaikan birokrasi, dan segudang perbaikan lainnya yang menjadi cita-cita semua manusia di negeri kita tercinta ini. Idealisme masyarakat kita sangat tinggi. Kita sudah terlalu jemu dengan berita korupsi yang menggambarkan betapa kayanya negeri kita dengan KORUPTOR!!! PENCURI UANG RAKYAT! PENGHISAP DARAH NEGERI TERCINTA! Kita butuh perubahan!!!! Kurang lebih kata-kata itu pernah kita dengar terlontar dari mulut para anak negeri ini. Namun sayangnya tidak semua anak negeri memiliki keinginan dan cita-cita yang sama. Sebagian mereka dengan tenangnya melenggang menghisap darah saudara kita sendiri.

Keputusan hasil sengketa PEMILU tinggal menunggu hari. Sidang MK yang terasa alot membuat masyarakat negeri ini bertanya-tanya siapakah yang pada akhirnya menjadi presiden negeri ini?. Siapa pun dia tentu kita rakyat Indonesia yang "waras" menginginkan seorang pemimpin yang bijaksana, pemberani, bukan antek dari kekuatan asing yang diselundupkan untuk memporak-porandakan negeri ini, bukan yang bisa dijadikan kendaraan "kecurangan" para pengusaha yang rakus akan keuntungan pribadi dan kelompok.

Memilih seorang pemimpin bagi negeri ini sama beratnya dengan memilih seorang suami yang akan menjadi imam dalam kehidupan setiap pribadi perempuan. Atau mungkin jauh lebih berat, karena kesalahan seorang pemimpin bangsa akan berdamapak pada seluruh bagian bangsa ini terutama rakyat, kita sendiri. Sudah sepatutnya kita, rakyat Indonesia, harus bermetamorfosis menjadi manusia yang cerdas dan beriman serta berakhlak. Janganlah kita diperbudak hanya dengan uang sekian ratus ribu rupiah untuk menggadaikan suara kita. Kita harus jeli melihat setiap sosok calon pemimpin yang akan kita pilih. Apa yang akan kita peroleh ke depannya itu merupakan dari apa yang kita putuskan saat ini. Istikharah sebelum memutuskan, insyaallah apa yang menjadi pilihan kita merupakan sosok yang amanah dalam mengemban tugas dan tanggung jawab.

Kita adalah satu, kita adalah saudara. Jika salah satu di antara kita sakit maka saudara kita yang lain akan ikut merasakan sakit. Kita berhak berbeda pendapat tapi bukan menghujat satu sama lain. Jangan biarkan ada kelompok atau orang tertentu yang mengambil keuntungan dari perbedaan yang kita perdebatkan saat ini. Kelangsungan negeri ini bukan hanya menjadi tanggug jawab seorang presiden saja, namun juga menjadi tanggung jawab kita semua.

wassaalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar